Hari ini Ara berulang tahun yang ke-5. Entah kenapa, di hari yang spesial ini gue di-plot Tuhan untuk sakit sehingga gue gak bisa masuk kerja (mungkin karena akumulasi kelelahan setelah beberapa minggu belakangan ini gue bahkan harus melanjutkan bekerja di rumah sampai malam bahkan di akhir pekan). Mengingat hari ini adalah hari istimewa buat Ara, gue mau bikin dia seneng dengan menjemput dia dari sekolah. Gue udah ngebayangin betapa dia akan kaget karena yang menjemput dia di depan gerbang bukan mamanya seperti biasanya tapi hari ini gue yang jemput. Indahnya …
Tapi, ternyata justru gue yang mendapat surprise hari ini. Ketika gue mengambil tangan Ara dari gurunya di pintu gerbang, gue liat Ara menenteng gelas cola dari McD. Dari gurunya Ara gue dapet penjelasan bahwa hari itu ada temen Ara yang berulang tahun dan membagi-bagikan paket makanan dari McD ke kawan-kawan sekelasnya. Entah ada yang notice ato gak ekspresi di wajah gue pas dapet informasi itu. Terus terang gue kaget banget! Bukan kenapa-kenapa, setau gue dan sesuai yang tertulis di buku Parents’ Handbook yang dibagiin sekolah ke semua orang tua murid, sekolahnya Ara melarang perayaan ulang tahun di sekolah.
Entah apa definisi “perayaan” menurut manajemen sekolah Ara. Tapi, menurut gue, bagi-bagi happy meal ke temen-temen satu kelas pada jam sekolah itu termasuk “perayaan”, meski gak pake acara tiup lilin ato potong kue tart. Gue juga gak pernah mendapat pemberitahuan tentang adanya perubahan terhadap aturan tentang ulang tahun yang tertulis di parents’ handbook. Apakah gue yang salah memahami aturan itu sehingga gue mencoret opsi perayaan ulang tahun di sekolah meskipun kakak-kakak gue, yang juga bekerja sebagai manajemen di sebuah sekolah di Jl, Rasuna Said Kuningan, menganjurkan gue buat mesen paket McD buat dibawain ke sekolah dan dibagiin ke temen-temen sekelasnya Ara. Yang gue tahu dan gue usahain buat gue patuhin, ulang tahun gak boleh dirayain di sekolah TITIK
Mungkin hal ini gak akan jadi masalah besar bagi gue kalo yang berulang tahun pada hari ini cuma anak baik hati yang bagi-bagi happy meal di kelasnya Ara. Tapi hari ini juga hari ulang tahun Ara, yang karena orang tuanya berusaha memberi contoh untuk mematuhi peraturan sekolah, gak bagi-bagi apa-apa ke teman-temannya. (Gue bahkan melarang Ara untuk membahas apa pun yang terkait dengan rencana perayaan ulang tahunnya dengan teman-teman di sekolahnya).
Sekarang mari kita bareng-bareng coba tempatkan diri kita di posisi seorang bocah berumur lima tahun yang sedang berulang tahun berbarengan dengan teman sekelasnya, TAPIIIIII … temannya itu bagi-bagi makanan sedang dia gak … Gue bukan ahli psikologi anak dan gak pernah belajar psikologi anak, tapi gue yakin seyakin-yakinnya bahwa situasi itu bener-bener gak sehat buat bocah seumur Ara. Dia jadi merasa terbanding dengan si teman yang baik hati itu. Dan gue tau, itu bukan pengalaman yang mengenakkan … especially for a five-year-old …
Kamis, April 30, 2009
Playing By The Rule? NOT
Diposting oleh
Ahmad Sofyan Jamil
di
23.23
0
komentar
Selasa, Maret 17, 2009
Ara Juara !
Hari Sabtu lalu, Ara ikut berpartisipasi dalam sebuah lomba renang di sekolahnya, Embun Pagi Islamic International School. Mengingat kemampuan Ara berenang yang belum seberapa, gue dan Tia sepakat bahwa cuma ada satu nomor lomba yang mungkin bisa diikutin oleh Ara. Jadilah kita isi di formulirnya: Lomba Mengambil Koin. Yup! Lomba ini mengharuskan pesertanya untuk menyelam sebentar untuk memungut koin dari dasar kolam.
Sejak malam sebelum tidur, Ara udah antusias banget dengan lomba yang akan dia ikutin itu. Dia pun sibuk melatih cara bagaimana mengambil koin dari dasar kolam. Jangan kira dia latihan di dalam kolam, karena kita gak punya kolam renang. Ara cuma pura-pura aja ada di dalam kolam dan berakting solah-olah dia ada di dalam air untuk jongkok memungut koin. Dengan senyum masih mengembang di wajahnya sambil membayangkan apa yang akan terjadi pagi harinya dalam lomba di sekolahnya, Ara pun naik ke tempat tidur.
Pagi harinya, Ara bangun masih dengan antusiasmenya untuk berlomba. Setelah mandi dan sarapan, Ara pun bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah, Ara mendaftar ulang untuk jenis lomba yang akan diikuti seperti yang diminta panitia pelaksana. Acara berikutnya adalah seremoni pembukaan, termasuk sambutan-sambutan, yang kemudian dilanjutkan dengan persiapan lomba. Para peserta dipanggil satu per satu untuk duduk di kursi yang telah disiapkan, sedang yang lainnya berdiri berbaris menunggu giliran.
Panitia nampaknya telah merencanakan urutan pelaksanaan lomba. Pada giliran pertama adalah lomba-lomba untuk murid-murid tingkat Elementary, yang kemudian disusul oleh giliran untuk anak-anak Kindergarten dan terakhir adalah giliran untuk bocah-bocah Nursery. Jadilah Ara dan kawan-kawannya menanti giliran berlomba (yang ternyata gak sebentar, sehingga Miss Sari merasa perlu buat meng-entertain anak-anak dan bocah-bocah itu dengan berbagai kegiatan). Sampai jam 9.30, Ara yang sudah siap di sekolah sejak jam 7.30, belum mendapat giliran. Gue dan Tia merasa perlu untuk bertanya kepada Ara apakah dia mau terus menunggu gilirannya ato kita cabut aja ke les pianonya, yang harusnya mulai jam 10.00. Dengan mantap Ara memutuskan untuk stay di sekolahnya dan so be it. Ara dan kawan-kawannya pun dengan setia menanti. Mereka duduk di pinggir kolam memberi semangat kepada peserta lomba dan sekali-sekali menceburkan diri ke dalam kolam (dan bikin repot Uncle Imam, karena harus menggiring mereka keluar kolam).
Setelah matahari agak meninggi, akhirnya giliran untuk anak-anak Kindergarten pun tiba. Satu persatu mereka dipanggil untuk mengikuti lomba demi lomba. Untuk nomor lomba mengambil koin, Ara bersaing dengan Najwa dan Dita. Dengan semangat mereka berusaha untuk melihat ke dasar kolam untuk mencari koin dan, setelah memberanikan diri, berusaha memungutnya. Ara dan Dita menghabiskan waktu dua menit untuk mengumpulkan dua koin. Ara seneng banget karena dia merasa menang dan akan menjadi juara.
Selesai lomba, ternyata kita masih harus menunggu lagi untuk proses pemberian medali. Panitia harus melakukan rekap hasil lomba (d’oh!). Ara yang telah selesai bilas dan salin pakaian pun menghabiskan waktu bermain-main dengan teman-temannya. Hari semakin siang, namun hasil lomba untuk siswa Kindergarten belum juga selesai direkap, tapi lomba untuk siswa Nursery yang selesai belakangan justru sudah diumumkan duluan. Mungkin emang lagi dilatih bersabar hari itu. Akhirnya pengumuman pun keluar dan nama Ara pun dipanggil sebagai pemenang medali perak setelah nama Dita sebagai pemenang medali emas dan diikuti oleh nama Najwa sebagai pemenang medali perunggu. (Gue sempet mempertanyakan hasil ini, tapi ternyata gue yang salah, hehehehe … Maaf ya, mama Dita, Uncle Andi and Uncle Imam, jadi malu …). Ara benar-benar senang hari itu. Berkali-kali dia bilang, “Ara juara! Ara juara!” Sambil lari-lari keliling halaman sekolah bawa-bawa sertifikat lomba yang baru dia dapet. Apa lagi setelah dia mendapatkan medali. Tapi karena hari udah siang bener dan kita masih ada beberapa agenda lain hari itu, termasuk bayar iuran les pianonya Ara supaya gak telat bayar dan kena denda, kita pun segera cabut dari sekolah.
Sepanjang jalan Ara gak berhentinya bilang, “Ara juara! Dapet … apa tadi namanya, Yah?” Gue dengan senang hati mendiktekan pelan-pelan, “Ser … ti …. fi ... kat” serta “me … da ... li ...” yang diulangi dengan seksama oleh Ara setiap suku katanya. Kayaknya ada salah konsep di benak Ara. Yang dia maksud “juara” ternyata adalah ertifikat dan medali yang dia dapet dari sekolah. Jadi di rumah, dia bolak-balik nanya ke mamanya, “Juara Ara mana tadi, Ma?” dan meski udah berulangkali dijelasin, dia masih tetap ngotot sama konsepnya sendiri. Yasudlah … as long as you are happy, fine with me … Congratulations ya, nak …
Diposting oleh
Ahmad Sofyan Jamil
di
13.09
3
komentar
