Hari Sabtu lalu, Ara ikut berpartisipasi dalam sebuah lomba renang di sekolahnya, Embun Pagi Islamic International School. Mengingat kemampuan Ara berenang yang belum seberapa, gue dan Tia sepakat bahwa cuma ada satu nomor lomba yang mungkin bisa diikutin oleh Ara. Jadilah kita isi di formulirnya: Lomba Mengambil Koin. Yup! Lomba ini mengharuskan pesertanya untuk menyelam sebentar untuk memungut koin dari dasar kolam.
Sejak malam sebelum tidur, Ara udah antusias banget dengan lomba yang akan dia ikutin itu. Dia pun sibuk melatih cara bagaimana mengambil koin dari dasar kolam. Jangan kira dia latihan di dalam kolam, karena kita gak punya kolam renang. Ara cuma pura-pura aja ada di dalam kolam dan berakting solah-olah dia ada di dalam air untuk jongkok memungut koin. Dengan senyum masih mengembang di wajahnya sambil membayangkan apa yang akan terjadi pagi harinya dalam lomba di sekolahnya, Ara pun naik ke tempat tidur.
Pagi harinya, Ara bangun masih dengan antusiasmenya untuk berlomba. Setelah mandi dan sarapan, Ara pun bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah, Ara mendaftar ulang untuk jenis lomba yang akan diikuti seperti yang diminta panitia pelaksana. Acara berikutnya adalah seremoni pembukaan, termasuk sambutan-sambutan, yang kemudian dilanjutkan dengan persiapan lomba. Para peserta dipanggil satu per satu untuk duduk di kursi yang telah disiapkan, sedang yang lainnya berdiri berbaris menunggu giliran.
Panitia nampaknya telah merencanakan urutan pelaksanaan lomba. Pada giliran pertama adalah lomba-lomba untuk murid-murid tingkat Elementary, yang kemudian disusul oleh giliran untuk anak-anak Kindergarten dan terakhir adalah giliran untuk bocah-bocah Nursery. Jadilah Ara dan kawan-kawannya menanti giliran berlomba (yang ternyata gak sebentar, sehingga Miss Sari merasa perlu buat meng-entertain anak-anak dan bocah-bocah itu dengan berbagai kegiatan). Sampai jam 9.30, Ara yang sudah siap di sekolah sejak jam 7.30, belum mendapat giliran. Gue dan Tia merasa perlu untuk bertanya kepada Ara apakah dia mau terus menunggu gilirannya ato kita cabut aja ke les pianonya, yang harusnya mulai jam 10.00. Dengan mantap Ara memutuskan untuk stay di sekolahnya dan so be it. Ara dan kawan-kawannya pun dengan setia menanti. Mereka duduk di pinggir kolam memberi semangat kepada peserta lomba dan sekali-sekali menceburkan diri ke dalam kolam (dan bikin repot Uncle Imam, karena harus menggiring mereka keluar kolam).
Setelah matahari agak meninggi, akhirnya giliran untuk anak-anak Kindergarten pun tiba. Satu persatu mereka dipanggil untuk mengikuti lomba demi lomba. Untuk nomor lomba mengambil koin, Ara bersaing dengan Najwa dan Dita. Dengan semangat mereka berusaha untuk melihat ke dasar kolam untuk mencari koin dan, setelah memberanikan diri, berusaha memungutnya. Ara dan Dita menghabiskan waktu dua menit untuk mengumpulkan dua koin. Ara seneng banget karena dia merasa menang dan akan menjadi juara.
Selesai lomba, ternyata kita masih harus menunggu lagi untuk proses pemberian medali. Panitia harus melakukan rekap hasil lomba (d’oh!). Ara yang telah selesai bilas dan salin pakaian pun menghabiskan waktu bermain-main dengan teman-temannya. Hari semakin siang, namun hasil lomba untuk siswa Kindergarten belum juga selesai direkap, tapi lomba untuk siswa Nursery yang selesai belakangan justru sudah diumumkan duluan. Mungkin emang lagi dilatih bersabar hari itu. Akhirnya pengumuman pun keluar dan nama Ara pun dipanggil sebagai pemenang medali perak setelah nama Dita sebagai pemenang medali emas dan diikuti oleh nama Najwa sebagai pemenang medali perunggu. (Gue sempet mempertanyakan hasil ini, tapi ternyata gue yang salah, hehehehe … Maaf ya, mama Dita, Uncle Andi and Uncle Imam, jadi malu …). Ara benar-benar senang hari itu. Berkali-kali dia bilang, “Ara juara! Ara juara!” Sambil lari-lari keliling halaman sekolah bawa-bawa sertifikat lomba yang baru dia dapet. Apa lagi setelah dia mendapatkan medali. Tapi karena hari udah siang bener dan kita masih ada beberapa agenda lain hari itu, termasuk bayar iuran les pianonya Ara supaya gak telat bayar dan kena denda, kita pun segera cabut dari sekolah.
Sepanjang jalan Ara gak berhentinya bilang, “Ara juara! Dapet … apa tadi namanya, Yah?” Gue dengan senang hati mendiktekan pelan-pelan, “Ser … ti …. fi ... kat” serta “me … da ... li ...” yang diulangi dengan seksama oleh Ara setiap suku katanya. Kayaknya ada salah konsep di benak Ara. Yang dia maksud “juara” ternyata adalah ertifikat dan medali yang dia dapet dari sekolah. Jadi di rumah, dia bolak-balik nanya ke mamanya, “Juara Ara mana tadi, Ma?” dan meski udah berulangkali dijelasin, dia masih tetap ngotot sama konsepnya sendiri. Yasudlah … as long as you are happy, fine with me … Congratulations ya, nak …
Selasa, Maret 17, 2009
Ara Juara !
Diposting oleh
Ahmad Sofyan Jamil
di
13.09
3
komentar
Jumat, Februari 27, 2009
Paracetamol vs. Ibuprofen
Udah seminggu Ara sakit. Semula gue dan Tia pikir cuma flu ato pilek biasa, jadi kita gak terlalu khawatir. Tapi setelah tiga hari panasnya gak juga hilang, kita baru mulai khawatir dan akhirnya kita bawa Ara ke dokter anak yang megang dia sejak bayi, yang kebetulan juga masih Omanya. Setelah diperiksa, ternyata Ara menderita radang tenggorokan.
Tapi ada pengalaman yang juga menjadi pelajaran buat gue dan Tia. Pada awal-awal Ara panas tinggi, kita kasih dia obat turun panas yang berbasis Paracetamol. Pertimbangannya saat itu adalah karena menurut artikel tentang DBD yang klipingannya kita tempel di pintu kamar, kalo kita khawatir anak kita kena DBD, obat turun panas yang harus digunakan adalah yang berbasis Paracetamol. Emang sih, kita beneran khawatir kalo-kalo Ara kena DBD (kita bahkan bawa Ara ke lab gak jauh dari rumah buat periksa darah), karena itu kita ambil langkah preventif dengan memilih obat turun panas berbasis Paracetamol.
Siklus panas Ara selama tiga hari pertama lumayan pendek. Obat turun panas kita kasih sesuai aturan, yaitu paling cepet 3 jam sekali (tapi biasanya kita tunggu sampe 4 jam). Setelah botol pertama habis, panas Ara ternyata malah tambah parah dengan siklus yang semakin pendek, sampe-sampe kita memutuskan untuk dikompres juga. Sampai suatu malem kita jadi panik karena Ara semakin panas padahal baru 2 jam dikasih obat turun panas. Saat hampir panik di tengah malam itu, gue telepon sepupunya Tia, dr. Bintari Puspasari, SpOG, buat minta saran. Gue disaranin buat ganti obat turun panas dengan yang berbasis Ibuprofen. Langsung aja malem itu gue ngebut dengan Vario gue ke Apotik K-24 di Jl. Pondok Kelapa dan gue beli 2 botol sekaligus, sementara Tia nunggu di rumah sambil terus mengkompres badan dan kepala Ara. Begitu sampe, kita langsung kasih obat turun panas yang baru gue beli itu ke Ara dan Alhamdulillah panasnya berangsur turun.
Pelajaran berharga yang gue dapet malem itu adalah bahwa ternyata Ibuprofen jauh lebih tepat untuk menurunkan panas badan yang disebabkan oleh peradangan seperti yang diderita oleh Ara (paling gak ini yang gue dapet dari hasil browsing di beberapa situs tentang kesehatan anak). Tetapi yang harus diingat juga adalah kalo anak kita panas karena DBD, yang harus kita kasih adalah obat turun panas yang berbasis Paracetamol, karena menurut klipingan gue itu Ibuprofen malah akan bikin keadaan tambah parah. Pasti gak ada yang mau hal itu terjadi. Kalo sampe gue menghadapi keadaan ini lagi, mungkin langkah yang gue ambil akan tetep sama. Yang akan gue kasih pertama kali adalah obat turun panas berbasis Paracetamol, just in case ternyata panasnya disebabkan oleh DBD. Kalo ternyata panasnya gak juga hilang dan diagnose dokter adalah radang, maka gue gak akan ragu buat segera ganti dengan obat turun panas berbasis Ibuprofen.
Ara sudah mulai berangsur sembuh sekarang. Dia masih batuk-batuk, tapi udah gak perlu dikasih obat turun panas lagi. Dia juga udah mulai bisa bercanda dan ketawa-ketiwi lagi. Rumah yang sempet sepi karena gak ada suara cerewetnya Ara atau suara ketawanya yang bikin orang ketularan ketawa, sekarang udah mulai rame lagi. Alhamdulillah …
Diposting oleh
Ahmad Sofyan Jamil
di
11.15
0
komentar
